Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Saturday, 19 September 2015

Kisah Pemuda yang Istiqomah Shalat Subuh

Kisah Pemuda yang Istiqomah Shalat Subuh
Kisah ini diceritakan oleh Khalid al-Jubair seorang dokter konsultan penyakit jantung di Riyadh sebagai berikut :

Suatu hari, aku mendapat giliran jaga. Tiba-tiba aku dipanggil ke ruang gawat darurat, di sana ada seorang pemuda berusia 16 – 17 tahun sedang menghadapi ‘sakaratul maut’.

Orang-orang yang datang bersamanya bercerita, “Dia sebelumnya sedang membaca Al-Qur’an di masjid menunggu iqamah shalat subuh. Ketika iqamah dikumandangkan, dia mengembalikan mushafnya ke tempat semula, lalu berdiri lurus dengan barisan. Tiba-tiba dia roboh pingsan dan kami membawanya ke sini.

Beberapa menit kemudian, aku kembali, aku melihat pemuda itu memegang tangan perawat, sedangkan perawat itu mendekatkan telinganya ke mulut sang pasien yang sedang berbisik kepadanya.

Beberapa saat kemudian pemuda itu melepaskan tangan sang perawat, kemudian mengucap, “Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah” (aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah).

Dia berulang kali membacanya sampai dia meninggalkan dunia yang fana’ ini dan perawat itu pun menangis.

Kami heran melihat dia menangis, karena ini bukan pertama kali dia melihat orang meninggal atau sekarat. Ketika dia agak tenang, kami bertanya, “Apa yang dibisikkan pemuda itu kepadamu dan kenapa kamu menangis..?”

Dia menjawab, “Dokter Khalid, ketika dia melihat Anda menyuruh saya untuk segera menanganinya serta Anda mondar-mandir, dia tahu bahwa Anda adalah orang yang bertanggung jawab merawatnya, lalu dia memanggil saya dan berbisik, …

‘Katakan kepada dokter jantung itu, janganlah dia menyusahkan diri sebab aku ini sudah mati. Demi Allah, aku sungguh melihat bidadari dan aku melihat tempatku di surga.’ Kemudian dia melepaskan tangan saya.”

Alhamdulillah, cerita ini dikutip dari buku : “Kisah-Kisah Penggugah Jiwa” oleh : Abdurrahman Bakar

Sumber : lampuislam

Friday, 18 September 2015

Umat Islam Menghadap Ka’bah, Apakah untuk Menyembah Allah?

Umat Islam Menghadap Ka’bah, Apakah untuk Menyembah Allah?


Terdapat Percakapan si A dengan seorang ustadz.

Si A : Mengapa orang Islam menyembah kotak hitam?

Ustadz : Salah itu! Umat Islam tidak menyembah kotak hitam, tapi menyembah Allah.

Si A : Bukankah orang Islam shalat menghadap Ka’bah, satu kotak yang berwarna hitam? Apakah Allah itu ada di dalam Ka’bah?

Belum sempat sang ustadz menjawab, terdengar handphone-nya si A berbunyi. Si A menjawab panggilan telefonnya, sementara sang ustadz dengan sabar menanti. Setelah si A selesai menjawab panggilan di handphonen-ya, dia memandang sang ustadz. Sang ustadz tersenyum.

Baca : 
"Siapa yang menciptakan Allah?" Pemuda Itu Menjawab .....

Si A : Mengapa tersenyum? Apa jawaban dari pertanyaan saya tadi ustadz?

Ustadz : Hmm… Perlukah saya menjawab pertanyaanmu?

Si A : Ah, pasti kau tidak bisa menjawab bukan? [tertawa]

Ustadz : Bukan itu maksud saya. Tapi saya mencoba menggunakan teori yang kau gunakan untuk membuat pertanyaan yang kau ajukan padaku. Saya melihat kau kurang menyadarinya.

Si A : Mengapa kau bicara begitu?

Ustadz : Tadi saya lihat kau bicara sendiri, ketawa dan tersenyum sendiri. Dan kau mencium HP itu sambil bicara “I love You”

Si A : Saya tidak bicara sendiri. Saya bicara dengan istri saya. Dia yang telfon saya tadi.

Ustadz : Mana istrimu? Saya tak melihatnya.

Si A : Istri saya di Padang. Dia telfon saya, saya jawab menggunakan telfon. Apa masalahnya? [nada marah]

Ustadz : Boleh saya lihat HP kamu?

Si A mengulurkan HP-nya kepada sang ustadz. Sang ustadz menerimanya, lalu membolak-balikan HP itu, menggoncang-goncangnya, mengetuk-ngetuk HP tersebut ke meja. Lantas sang ustadz menghempaskannya sekuat tenaga ke lantai. Prak, pecah, muka si A merah menahan marah. Sementara sang ustadz menatapnya sambil tersenyum.

Ustadz : Mana istrimu? Saya lihat dia tidak ada di sini. Saya pecahkan HP ini pun istrimu tetap tak terlihat di dalamnya?

Si A : Mengapa kau bodoh sekali? Teknologi sudah maju. Kita bisa berbicara jarak jauh menggunakan telfon. Apa kau tak bisa menggunakan otakmu? [Luar biasa marahnya]

Ustadz : Alhamdulillah [senyum]. Begitu juga halnya dengan Allah SWT. Umat Islam shalat menghadap Ka’bah bukan berarti umat Islam menyembah Ka’bah. Tetapi umat Islam shalat atas arahan Allah. Allah mengarahkan umat Islam untuk shalat menghadap Ka’bah juga bukan berarti Allah ada di dalam Ka’bah. Begitu juga dengan dirimu dan istrimu. Istrimu menelfon menggunakan HP, ini bukan berarti istrimu ada di dalam HP. Tetapi ketentuan telekomunikasi menetapkan peraturan, kalau ingin bicara lewat telfon harus tekan nomor yang tepat, barulah akan tersambung dan kau bisa berbicara melalu HP meski istrimu tak ada di dalamnya.

Si A : [melongo]


[untuk-islam] islampos.com

Saturday, 12 September 2015

Pelihara 7 Kalimat Ini, Dosa Sejumlah Buih Lautan akan Diampuni


Manusia di muka bumi ini tidak akan luput dari dosa. Karena manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Di mana dalam menjalankan kehidupan ini terkadang seseorang tertipu atas keindahan dunia dan permainan di dalamnya. Sehingga, yang baik terlihat buruk dan yang buruk terlihat baik. Itulah mengapa, kita harus senantiasa mendekatkan diri pada Allah, agar dosa-dosa yang menumpuk dapat terkikis habis sebelum kita kembali pada-Nya.

Ada berbagai macam cara untuk senantiasa mendekatkan diri pada Allah. Salah satunya dengan mengamalkan 7 kalimat. Apa sajakah itu?

Al Faqih Abu Laits menegaskan, “Siapa pandai memelihara 7 kalimat, berarti mulia di sisi Allah dan para malaikat-Nya, diampuni dosanya oleh Allah sekalipun besar seperti jumpah buih lautan, dan ia memperoleh lezat/ manisnya taat, hidup dan matinya tetap dalam kebaikan, yaitu:

1. Setiap pekerjaan diawali dengan ucapan, “Bismillah (Dengan menyebut Asma Allah).”

2. Setiap pekerjaan dihabisi dengan ucapan, “Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah).”

3. Ketika lisan terlanjur mengucapkan perkataan yang tiada berfaedah, segera beristighfar, berikut, “Astaghfirullah (Aku mohon ampun kepada Allah).”

4. Ketika hendak melakukan suatu pekerjaan di waktu datang/ besok, mengucapkan, “Insyaa Allah (Jika Allah menghendaki).”

5. Ketika menghadapi hal-hal yang tiada mampu menahannya/ yang tidak disukai hatinya, mengucapkan, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adziim (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang luhur lagi Agung).”

6. Ketika tertimpa musibah mengucapkan, “Innaa lillaahi wa inna ilahi raaji’uun (Sungguh, kami adalah kepunyaan Allah dan kepada-Nya pula kami kembali).”

7. Tiada putus-putusnya lisan mengucapkan dua kalimah thayyibah/ dua kalimah syahadat, baik di malam atau pun siang hari.” (Dari Tafsir Hanafi)

Ini dua kalimah thayyibah/ syahadat, “Laa ilaaha illallahu muhammadur rasuulullah (Tiada Tuhan yang lain, kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasul Allah).”

Sumber: Tarjamah Duratun Nasihin/Karya: Ust. Abu H.F. Ramadlan BA/Penerbit: Mahkota Surabaya

islampos.com

Friday, 11 September 2015

Wanita Harus Baca, Dosa 24 Jam Seorang Wanita di Sosial Media



Mohon dibaca sampai selesai, siapa tau bisa menjadi pelajaran buat kita semua, terutama bagi muslimah .

Seorang Wanita yang menampakkan foto dirinya di internet mungkin telah melanggar larangan untuk tidak tabarruj dan sufur. Tabarruj artinya seorang wanita menampakkan sebagian anggota tubuhnya atau perhiasannya di hadapan laki-laki asing.

Sedangkan Sufur adalah seorang wanita menampak-nampakkan wajah di hadapan lelaki lain. Oleh karena itu Tabarruj lebih umum cakupannya daripada sufur, karena mencakup wajah dan anggota tubuh lainnya.

Tabarruj diharamkan dalam syariat berdasarkan ayat al-Qur’an dan juga hadits, antara lain: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada dua kelompok penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang memukuli orang-orang dengannya dan para wanita yang berbaju tapi mereka telanjang, berlenggak lenggok kepala mereka bagaikan punuk unta yang bergoyang. Wanita-wanita itu tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya padahal bau surga bisa tercium sejauh sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 3971 & 5098)

Apabila seorang Wanita menampakkan photo dirinya di internet lalu dimanakah esensi hijab sebagai al Haya’ (RASA MALU). Sebagai seorang muslimah sejati, tentulah saudariku akan berpikir ribuan kali untuk melakukan hal yang demikian. Padahal Rasullullah Shallallahu’alaih wa sallam bersabda yang artinya: “Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlaq dan akhlaq Islam adalah malu” sabda beliau yang lain; “Malu adalah bagian dari Iman dan Iman tempatnya di Surga”.

Allah Azza wa Jalla juga menjadikan kewajiban berhijab sebagai tanda ‘Iffah (menahan diri dari maksiat) dalam firman-Nya, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Ahzab: 59)

Itu karena mereka menutupi tubuh mereka untuk menghindari dan menahan diri dari perbuatan jelek (dosa), karena itu “mereka tidak diganggu”. Maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka.

Dan pada firman Allah “karena itu mereka tidak diganggu” sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk gangguan berupa fitnah dan kejahatan bagi mereka. Wallahua’lam.

Diantara dampak negatif wanita memajang foto wajah di internet :

– Bisa membuat pria yg sengaja maupun tak sengaja melihatnya menjadi tergoda, mengotori hatinya, membuat terbayang siang malam, bahkan bisa menimbulkan niat-niat buruk atau bahkan sampai melakukan kejahatan. Meski seorang wanita menutup seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangannya, kemudian ia memamerkan dirinya di social media maka ini pun tidak bisa menjamin selamatnya orang yang melihat dari fitnah, sebab wajah wanita memiliki daya tarik yang sangat kuat terhadap laki-laki, sehingga, meski seluruh badannya tertutup dengan baik akan tetapi jika wajahnya dibuka dan dipampang di depan pengunjung akun, maka itu bisa menimbulkan fitnah di hati orang yang memandangnya. Disebabkan orang yang menyaksikan foto itu bisa terfitnah maka tidak dibolehkan memampang foto wajah itu di halaman situs yang bisa diakses oleh para pria yang bukan mahromnya.

– Menggoda pria, membuat pria tidak menundukkan pandangan, padahal dalam Al Quran diperintahkan menundukkan pandangan. Jika di dunia nyata, pria tidak akan berani lama-lama menatap wanita, apalagi yang belum dikenalnya. Pria akan malu kalau kelihatan sedang melihat wanita tersebut terus-menerus. Namun foto di internet, para lelaki bisa melihatnya lama-lama tanpa merasa malu, sebab tidak ada orang yang tahu. Dan hal tersebut bisa mendatangkan berbagai dampak negatif baik bagi pria maupun wanita. Sudah seharusnya para wanita menolong para pria dgn cara mencegah terjadinya hal tersebut, yaitu dgn tidak memajang fotonya.

– Betapa banyak wanita yg menjadi korban pria jahat berawal dari Facebook, diajak ketemuan, ditipu, diculik, diperkosa, dibunuh, dll, diawali oleh pria tertarik melihat foto sang wanita di FB, sebagaimana sering diberitakan media massa.


– Foto anda bisa dicopy dan diedit oleh orang2 jahat, dijadikan foto porno, atau digunakan untuk hal2 lain yg merugikan, (misalnya orang membuat suatu akun dgn memakai foto2 anda)

Ridhokah laki-laki yang sudah dipersiapkan Allah untuk menjadi pasangan hidupmu? Karena mereka lah yang berhak terhadap kecantikan yang kamu miliki.  Jawabnya : itu hak anda, kami hanya menyampaikan.

Namun semuanya kembali pada diri kita masing-masing, jika memang susah rasanya tidak menggunakan sosial media, jadikanlah sosial media itu menjadi hal yang bermanfaat dan tidak menimbulkan fitnah bagi kita sendiri.

Silahkan share artikel ini kepada temanmu yang lain jika kamu rasa ini bermanfaat. [HP – Sebarkanlah.com /Media Online Indonesia]

Thursday, 10 September 2015

Benarkah Istri Tidak Wajib Melakukan Pekerjaan Rumah Tangga?

Benarkah Istri Tidak Wajib Melakukan Pekerjaan Rumah Tangga?

Belakangan saya sempat dibikin terheran-heran dengan cerita rumah tangga sejumlah kawan yang notabene adalah para aktivis dakwah. Ada keresahan di antara mereka soal hak dan kewajiban suami-istri. Para suami merasa khawatir melanggar syariat, sementara para istri merasa selama ini mereka ‘dikerjain’ oleh para suami dalam urusan rumah tangga.

Tema yang membuat mereka resah adalah; siapa sebenarnya yang bertanggung jawab dalam urusan rumah tangga seperti memasak, menyiapkan makanan-minuman, mencuci pakaian dan menyeterikanya? Suamikah atau istri?

Berawal dari beberapa kajian soal ini, juga beredar sejumlah artikel di dunia maya – yang seperti biasa menjadi efek viral kemana-mana – beberapa muslimah berpikir kalau selama ini para suami salah kaprah memahami kewajiban mengurus rumah tangga. Bahwa mencuci, menyetrika, memasak, dll. Sesungguhnya bukan kewajiban istri, tapi kewajiban suami. Dalil yang menjadi acuan adalah firman Allah SWT.:

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. (TQS. Al-Baqarah: 233).

Di dunia maya juga beredar sejumlah tulisan — sebagian dibuat oleh para asatidzrahimakumullah – yang merangkum hak dan kewajiban perempuan dalam pernikahan. Singkat kalam, dalam tulisan itu dicantumkan bahwa para ulamasalaf ash-sholeh memahami bahwa para istri tidak wajib sama sekali untuk memasak, mencuci, menyetrika dan sejumlah pekerjaan domestik lainnya.

Dalam sejumlah tulisan itu disebutkan bahwa kewajiban seorang istri adalah sekedar istimta’, yaitu memberikan pemenuhan kebutuhan biologis kepada suami. Lainnya tidak. Hal itu memang masyhur dalam sejumlah kitab lintas Madzhab Fikih.

Para pengikut Madzhab Hanbali misalnya berpendapat bahwa tidak ada kewajiban bagi seorang istri untuk pekerjaan domestik semisal membuat adonan, membuat roti, atau memasak. Pendapat senada juga datang dari para pengikut Madzhab Imam Syafi’i seperti yang tertuang dalam kitab al-Majmu’ (juz 16 halaman 427, edisi Maktabah Syamilah).

Menurut mereka, bila para istri berkhidmat pada suaminya dalam pekerjaan-pekerjaan di atas itu adalah amal terpuji (al-akhlaq al-mardliyyah), bukan sebagai kewajiban.

Meski demikian tidak semua ulama berpendapat serupa. Abu Tsaur
 berpendapat sebaliknya. Beliau Menyatakan bahwa wajib bagi seorang istri membantu atau berkhidmat pada suaminya dalam segala hal (yang ma’ruf – penulis). Beliau mengutip sebuah hadits yang dicantumkan Imam Ibnu Habib dalam kitab al-Wadhihah, yakni:
إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَكَمَ عَلَى فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا بِخِدْمَةِ الْبَيْتِ كُلِّهَا

Sesungguhnya Nabi SAW. memutuskan atas Fatimah – semoga Allah meridloinya – membantu urusan rumah seluruhnya

Ulama lain yang berpendapat serupa adalah ‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah. Beliau berpendapat bahwa seorang istri memang wajib mengerjakan tugas-tugas domestik. Beliau mendasari pendapatnya pada keputusan Nabi SAW. terhadap rumah tangga Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib ra.:
فَإِنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَضَى عَلَى ابْنَتِهِ فَاطِمَةَ بِخِدْمَةِ الْبَيْتِ ، وَعَلِيٍّ مَا كَانَ خَارِجًا مِنْ الْبَيْتِ مِنْ عَمَلٍ

Sesungguhnya Nabi SAW. menetapkan terhadap anak perempuannya, Fatimah, mengerjakan pekerjaan di rumah, sedangkan kepada Ali bin Abi Thalib pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan di luar rumah. (Musnad Ibnu Abi Syaibah).

Hadits di atas diperkuat dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa suatu ketika Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra sama-sama mengeluhkan pekerjaan mereka masing-masing kepada Rasulullah SAW. Ali bercerita kalau pekerjaannya mengambil air (dari luar rumah) yang membuat dadanya terasa sakit. Sedangkan Fatimah mengadukan keletihannya menggiling tepung yang membuat tangannya melepuh. Namun Rasulullah SAW. membiarkan hal itu dan justru mengajarkan kepada mereka berdua wirid dan zikir yang akan membuat mereka dicintai dan dimuliakan Allah SWT.
Sikap Rasulullah saw. yang membiarkan pekerjaan Ali di luar rumah dan Fatimah di dalam rumah, menunjukkan penetapan Beliau bahwa demikianlah aktifitas suami dan istri dalam Islam. Seorang suami memang harus bekerja mendatangkan apa yang dibutuhkan istri dari luar rumah seperti membawakan air dan bahan makanan, sedangkan istri bekerja di sektor domestik/dalam rumah seperti menggiling tepung, memasak, dsb.

Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-Barriy menyebutkan, “Melaksanakan pekerjaan di rumah adalah wajib bagi seorang wanita meskipun sang istri memiliki kedudukan terpandang dan kemuliaan jika sang suami kesulitan (mendatangkan pembantu).” Berkata Ibnu Hajar, “Demikianlah Nabi saw. menetapkan Fatimah melakukan pekerjaan di rumah, sedangkan Ali melaksanakan pekerjaan di luar rumah.”

Selain itu, Rasulullah saw. juga sering meminta kepada istri-istri beliau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di sektor domestik alias di rumah tangga, seperti meminta air minum, makanan, dsb.
يَا عَائِشَةُ اسْقِينَا ، يَا عَائِشَةُ أَطْعِمِينَا ، يَا عَائِشَةُ هَلُمِّي الشَّفْرَةَ ، وَاشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ

Wahai Aisyah tolong ambilkan minum, wahai Aisyah tolong ambilkan kami makanan, wahai Aisyah ambilkan kami pisau dan asahlah dengan batu! (HR. Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban).

‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah juga berpendapat bahwa bagi istri, adalah wajib melayani suami di rumah sekaligus mengurus rumah sesuai kemampuannya. Jika pekerjaan rumah tangga mendatangkan kesusahan bagi istri, maka suami wajib membantu untuk meringankannya. Misalnya memberikan mesin cuci atau menyewa pembantu rumah tangga untuk meringankan tugas istri di rumah.

Sebaliknya, jika pekerjaan di dalam rumah ringan dan mampu dikerjakan istri maka tidak ada kewajiban bagi suami untuk mendatangkan pembantu. Bahkan sang istri wajib untuk melaksanakan hal itu. Hal ini berdasarkan apa yang diputuskan oleh Nabi SAW. untuk Fatimah, putrinya.

Syaikh Taqiyuddin juga menyebutkan bahwa seorang istri wajib melayani suami seperti membuat adonan roti, memasak, membersihkan rumah, menyediakan minuman jika suami meminta. Sebaliknya suami wajib menyediakan apa saja yang harus dilakukan di luar rumah seperti membuang sampah, menyediakan kayu bakar atau gas LPG, bahan makanan dari pasar, dsb.

Rasulullah saw. juga mengingatkan para wanita agar mereka mandiri dalam melakukan pekerjaan rumah dan sekali-kali tidak merepotkan suaminya bila mereka sendiri mampu melakukan hal itu. Sabda Nabi SAW.:
لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِىَ لاَ تَسْتَغْنِى عَنْهُ

Allah SWT. tidak akan memandang kepada perempuan yang tidak berterima kasih kepada suaminya dan dia tidak berupaya mengerjakan sendiri tanpa merepotkan suaminya (HR. Bayhaqiy)

Menurut kami, inilah pendapat yang rajih (kuat), karena nash-nash syara’ di atas telah menunjukkan pembagian tugas suami dan istri dalam sebuah pernikahan. Demikian pula kehidupan rumah tangga para sahabat di masa Rasulullah saw. pun berlangsung seperti itu. Para sahabiyyah berkhidmat pada suaminya dan menyiapkan berbagai keperluan rumah tangga untuk mereka. Mereka menggiling tepung, memasak roti dan mencucikan pakaian suami mereka. Dan Rasulullah saw. membiarkan dan mengakui hal itu. Seandainya pekerjaan tersebut bukanlah kewajiban kaum wanita niscaya Rasullah akan membatalkan aktivitas-aktivitas tersebut.
Selain itu seandainya suami memerintahkan istri untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga semisal memasak, mencuci, menyapu, dll., maka wajib bagi istri untuk mengerjakannya. Karena ketaatan pada suami dan mengakui serta mengerjakan hak-hak suami adalah amal yang agung bagi seorang perempuan dalam rumah tangga. Sabda Nabi SAW.:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا لِمَا عَظَّمَ اللَّهُ مِنْ حَقِّهِ عَلَيْهَا

Seandainya aku diperintahkan untuk menyuruh seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan wanita untuk bersujud kepada suaminya, karena Allah telah menjadikan besar hak suami atas istrinya (HR. Abu Daud).

Akhirul kalam, meski terdapat perbedaan pendapat di kalangan berbagai madzhab, namun kami melihat pendapat yang rajih, yang lebih kuat, adalah menetapkan pembagian tugas pria dan wanita seperti ketetapan Nabi saw. kepada Ali dan Fatimah. Para lelaki bertugas dalam pekerjaan di luar rumah, sedangkan kaum wanita bertanggungjawab dalam pekerjaan-pekerjaan domestik.

Inilah ladang amal soleh yang wajib mereka kerjakan. Hal ini bukanlah ‘urf atau adat, melainkan ketetapan yang datang dari nash syara’. Karenanya tak ada alasan bagi seorang perempuan menolak mengerjakan tugas-tugas domestik, dengan alasan hal itu adalah urf, apalagi berdalih itu tidak termasuk tugas seorang istri. Andaikan benar demikian, niscaya Rasulullah SAW. akan membela keluhan putrinya sendiri. Tapi faktanya Beliau justru membiarkan aktifitas itu tetap berlangsung dan malah mengajarinya wirid dan zikir.

Menelantarkan tugas-tugas rumah tangga adalah kemaksiatan di sisi Allah SWT. karena termasuk melalaikan kewajiban. Maka seorang istri harus berusaha sekuat tenaga mengerjakan tugas-tugas rumah tangga sebaik-baiknya, sehingga rumah tangganya menjadi tempat berkumpul yang menyenangkan bagi suami dan anak-anaknya. Lebih dari itu, amal dalam rumah tangga adalah amal agung yang dapat menyamai jihad fi sabilillah yang dilakukan kaum pria. Wallahualam.

Nama aslinya adalah Ibrahim bin Khalid bin Abi Aliman al-Kalbi al-Baghdadiy (beliau wafat pada tahum 240 Hijriyah).
Nama lengkapnya adalah Abdul Malik bin Habib bin Sulaiman As-Salami, salah seorang murid Imam Malik dan mengarang sejumlah kitab di antaranya kitab fiqih bertitel al-Wadhihah.

Juz 15 hal. 222, versi Maktabah Syamilah

Sumber : http://www.iwanjanuar.com/benarkah-istri-tidak-wajib-melakukan-pekerjaan-rumah-tangga/

"Siapa yang menciptakan Allah?" Pemuda Itu Menjawab .....

"Siapa yang menciptakan Allah?" Pemuda Itu Menjawab .....


Sumber : Bee-top.blogspot.com
Ada seorang Atheis yang memasuki sebuah masjid, dia mengajukan 3 pertanyaan yang hanya boleh dijawab dengan akal. Artinya tidak boleh dijawab dengan dalil, karena dalil itu hanya dipercaya oleh pengikutnya, jika menggunakan dalil (naqli) maka justru diskusi ini tidak akan menghasilkan apa-apa...

Pertanyaan atheis itu adalah:

1. Siapa yang menciptakan Allah?? Bukankah semua yang ada di dunia ada karena ada penciptanya?? Bagaimana mungkin Allah ada jika tidak ada penciptanya??

2. Bagaimana caranya manusia bisa makan dan minum tanpa buang air?? Bukankah itu janji Allah di Syurga?? Jangan pakai dalil, tapi pakai akal....

3. Ini pertanyaan ketiga, kalau iblis itu terbuat dari Api, lalu bagaimana bisa Allah menyiksanya di dalam neraka?? Bukankah neraka juga dari api??

Tidak ada satupun jamaah yang bisa menjawab, kecuali seorang pemuda.

Pemuda itu menjawab satu per satu pertanyaan sang atheis :

1. Apakah engkau tahu, dari angka berapakah angka 1 itu berasal?? Sebagaimana angka 2 adalah 1+1 atau 4 adalah 2+2?? Atheis itu diam membisu..

"Jika kamu tahu bahwa 1 itu adalah bilangan tunggal. Dia bisa mencipta angka lain, tapi dia tidak tercipta dari angka apapun, lalu apa kesulitanmu memahami bahwa Allah itu Zat Maha Tunggal yg Maha mencipta tapi tidak bisa diciptakan??"

2. Saya ingin bertanya kepadamu, apakah kita ketika dalam perut ibu kita semua makan? Apakah kita juga minum? Kalau memang kita makan dan minum, lalu bagaimana kita buang air ketika dalam perut ibu kita dulu?? Jika anda dulu percaya bahwa kita dulu makan dan minum di perut ibu kita dan kita tidak buang air didalamnya, lalu apa kesulitanmu mempercayai bahwa di Syurga kita akan makan dan minum juga tanpa buang air??

3. Pemuda itu menampar sang atheis dengan keras. Sampai sang atheis marah dan kesakitan. Sambil memegang pipinya, sang atheis-pun marah-marah kepada pemuda itu, tapi pemuda itu menjawab : "Tanganku ini terlapisi kulit, tanganku ini dari tanah..dan pipi anda juga terbuat dari kulit dari tanah juga..lalu jika keduanya dari kulit dan tanah, bagaimana anda bisa kesakitan ketika saya tampar?? Bukankah keduanya juga tercipta dari bahan yang sama, sebagaimana Syetan dan Api neraka??

Sang athies itu ketiga kalinya terdiam...

Sahabat, pemuda tadi memberikan pelajaran kepada kita bahwa tidak semua pertanyaan yang terkesan mencela/merendahkan agama kita harus kita hadapi dengan kekerasan. Dia menjawab pertanyaan sang atheis dengan cerdas dan bernas, sehingga sang atheis tidak mampu berkata-kata lagi atas pertanyaannya..

Itulah pemuda yang Islami, pemuda yang berbudi tinggi, berpengetahuan luas, berfikiran bebas...tapi tidak liberal... tetap terbingkai manis dalam indahnya Aqidah...

Ada yang berkata bahwa pemuda itu adalah Imam Abu Hanifah muda. Rahimahullahu Ta'ala...
Allahu a'lam..




close
close